Filter Antinjemblem

Apa Puan lirik karena sayang, 

Apa pula bikin Tuan lalu datang, 

Untuk bicara banyak macam rayuan, 

Kalaulah kukunya dibuat bercat bunga, 

Tebal menutupi ketikan dan ketukan, 

Terhimpun jadi gelap dibalik lukisan, 

Milik puan dinyalakan pantulan  dan gambaran, 

Tuan tiada henti ketinggalan, 

Hisapan demi hisapan tiada dilakukan ujung jari berkuku, jauh darinya bibir ndower menggelap lama dibikin. 

Kaca bercerita sendiri, usai tahu rasa sentuhan, telah mengubah bayangan dirinya, percaya keajaiban jaman selalu bercara mengubah dirinya. 

Perapian kecil mengencangkan serat ikan, merapat dan memanja seiring sungging senyuman diterbarkan, tatkala tiada kata lagi mampu menggantikan gelora rasa, resap kepulan penghangat dibalik tirai hati,, sesampai terdiam kesadaran enggan berada diantaranya, 

Tiada wajah senyatanya berganti, kecuali ia yang muncul sebagai masa lalu menyerta membawa ceritanya, tetap menerap kepingan yang tersusun oleh hembusan dan tekanan yang menjadikan adanya keberaturan bentuk, disaring helaan dalam nafas mengartikan setiap kemuncukan yang mendekati. 

Kata juang yang tidak pernah disebut, namun sangat lama telah menjadi bagian kering oleh jauhnya langkah, fatamorgana yang dulu menggoda setiap lunglai langkah, menyusup dalam kenangan penghias setiap cerita yang sudah dipenghujung urai dan tuturnya, saat berbagi dengan terbata-bata di ujung senja. 


Bangka Bandung

Dua tempat yang berbeda 

Pulau tidak sama 

Awalan sama,

Akhiran beda 

Asli dan bukan imbuhan 

Membagi cerita tentangnya 

Kini bisa di hari yang sama,

Tidak dulu.

Pembagian itu bukan pengurangan 

Namun mengerti tentangnya,

Sama baiknya mengenali 

Akan bagaimana penambahan 

Bekerja di dalamnya...

Dua tempat mudah dilihat 

Dulu jauh kini dekat,

Tidak percaya,... lihatlah 

Peta di layarmu...

Kesulitan tidak perlu ,

Hingga engkau menerbangkan 

Mimpi terbaikmu yang pernah ada ;

Ketidaktahuanku tentang bagaimana 

Keduanya kini,

Mungkin telah terisi,

Dengan totalitas orang 

Tanpa henti berjuang,

Hingga menyodorkan kemudahan....

πŸ—£ternyata... bersuara

Mencuci Quali




KLIKU Belajar : Qualified: Critical thinking today helps build the leaders of tomorrow - the education & technology series of #CampusUNESCO sessions brings togeth...

==:
@da yang mengatakan,
Ini Selasa Wage bukan?
Tidak lagi menjadi masalah andai ia dibicarakan, bicaralah sesuka hatimu kini ...
Kutermangu.. padanya yang sering bicara banyak hal tentang waktu wuku;
Hal yang termasuk sangat belum kutahu.
Penambahan akan pilihan bila ini saat yang tidak sedikit pun akan mengusiknya, jauh dari weton hingga frekuensinya, seolah penjelas tanpa menemukan kata pembantah.



Haruskah logika berkata?
Tanyaku hanya dijawab dengan gerak kecil alisnya yang memutih.
Kedua tangannya yang membuka dan dengan jelas terarah, menampakkan semakin jelas, sebuah kebebasan ia berikan, tubuhnya yang semakin condong juga mendekat seolah mendekatkan denyut dadanya menambah semakin menunjukkan kesungguhannya memusat pada apa yang dinanti untuk didengar, walau terkadang kehangatan dari hembusan nafasnya seolah menggerayangi isi kepala, mengerti semua apa yang akan terucap, semua tiada tampak karena tirai kesadaran dan kesabarannya, menanti kata demi kata yang coba kulepas dengan perjuangan sebisa mungkin dalam tata yang pantas didepannya.

Dalam kesekian rentang, jeda mengajakku menjauh dalam memanjang lebarkan kata yang telah tertuang, tiada hitungan umtung merumus banyaknya orang dapat meluaskan anggapan tentang semua itu, memutus pilihan pada apA yang ia telah lakukan karena punya alasan memberi rasa dan juga kesan, tanpa mendalam bagi setiap orang kecuali yang saat itu bersamanya.

Di atas meredupnya bara, ia angkat kuali tanah, dituang sisa isinya pada tempat lain, Sesaat ia membersihkannya lalu ia mengisinya dengan beberapa kali tuangan air bening dari dalam kendi, lalu matanya memastikan aku menanti dirinya dengan sabar. Urainya singkat tentang apa ya telah ia baru lakukan, tiada lain untuk menyiapkan secangkir teh, yang pasti lebih kusukai daripada jamu yang ia buat sebelumnya, anggukan kuberikan tiada lain karena pengertiannya.

Gambaran yang telah kuberikan, akan seorang yang telah tidak tampak olehku kini, walau sebelumnya selalu bersama tidak dipilihnya sebagai penggambaran terbanyak sebagai pemenuh keingintahuan; kesederhanaan dalam membukakan perngertian lebih banyak dalam cara melihat ukuran. Ukuran akan letak dan pemahaman akan posisi, tempat,waktu dan cara yang dipilihnya untuk menjauh, dan tiada luput beban yang ia bawa dan ia tinggalkan pada saat itu. Kesabaran dan kesederhanaan uraiannya ujarnya mendasarkan akan ikatan erat semua bagian itu, tanpa kompromi harus selalu brrhubungan; dengan kata lain pengaruh yang saling mengisi, melengkapi dan menyumbang kekuatan, dan didalamnya tidak ada gaya yang pantas disisa, atau dibawa.
Pertama kudengarkan semua saja, juga dengan anggukan namun ia sangat mengerti bila kuhanya pura-pura tahu, kemudian ia menggambarkan lagi, seperti baru akan menjauh dari pelabuhan tetapi kembali lagi merapat. "Salah satu bukti kesabaranmu yang tumbuh, saat sudah tiidak kudengar lagi darimu sebuah umpat," liriknya menggoda kelambatanku memahami bincangnya.
πŸ€’





Ciri Diminati

Senja, telah melahirkan banyak cerita 

Semua tiada lain juga karenanya,

Karena kecil dirinya namun dipenuhi 

Dengan memgembangnya keingintahuan 

Tiada jarang saat dingin yang semakin sering membuat bunyi gigitan gemeretak 

Tetap tiada habis pinta akan berulangnya kisah -kisah dalam kenangannya diajaknya jadi pengusir sepi 

Tentang binatang-binatang kecil 

Tentang makhluk-makhluk dalam tokoh sandiwara.

Hingga pejuang fantasi diantara bintang - bintang, tentang ketidaknyataan akan keberanian mereka yang tidak takut terjatuh di atas sana...

Semua mengisi tanya mata kecil yang berbinar tersulut rasa cinta pada teman hatinya punya kisah 

Ia yang menggambarkan ketidaktakutan akan mimpi yang sangat tinggi, tempat dimana ia akan terebah diantara kerling cahaya -cahaya kecil seperti kunang -kunang, tempat tak bercadas yang akan membuatnya terantuk, tempat tak bertanah yang akan mengotorinya,

Ya semua tempat itu, tiada dapat tersentuh seperti yang ada di dekat sini,

Ciri yang baginya sulit untuk digambarkan, namun tetap jadi bagian mimpi senja yang diminati....


Phyllanthus niruri

Language and Art of Mind: Flashrepro:   Hari ini, dia ingin sedikit berbagi  Bagaimana peristiwa tiga puluh tahun lalu  Tepat dibulan yang sama, hari Minggu hari yang ke dua pu...

😘

Demi daya tahan 
Juga demi kadar standar
Manisnya terkecap lidah..
Cuma ada di angan 


Tinggi sekali 
Hingga tiada tampak 
Ketika batang panjang 
Memasuki isinya cerita 

Dimana manismu 
Dimana kini ceriamu
Akankah ia kini berlabuh 
Dalam rasa yang telah baru?


Pak Kades Tindak Nyawang

Suatu hari Jumat yang cerah, dengan ceria seorang warga yang dikenal dekat dengan Pak kades bergegas memasuki kantor kades, namun beliau hanya mendapatkan jawaban singkat dari Pak Sekdes, bahwasanya beliau tidak di tempat.

"Ada apa sebenarnya?..
Tolong katakan, Pak Sekdes, apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Jangan-jangan Nyawang itu orangnya jahat? Apa itu nama sebuah kampung di pinggiran desa kita, maklum saya nggak hafal semua tempat, desa kita kan luas sekali, dengan siapa beliau pergi? Apa ada rencana beliau yang lain pada hari ini Pak Sek., selain itu?"

"Wah..! Sampean kok sudah menhujani dengan barisan pertanyaan yang bikin orang bingung toh?" Pak Sekdes menghela nafas lalu menanggapi juga,"Saya sendiri belum sempat ngobrol pagi ini, hanya kemarin obrolan dengan kades sebelah, mungkin saja beliau mau memastikan informasi, kalo-kalo bisa masuk pegawai negeri, itu aja yang saya inget."...

"Oh jadi ada informasi tentang penerimaan pegawai di Nyawang, dengan kata lain beliau ingin diakui negara ya Pak Sek., apa beliaunya udah nggak kelewat uzur ya... Beliau itu ya Pak, jangan- jangan baru diangkat terus pensiun? Sambil mengangguk-angguk, juga melangkah mengitari ruangan menikmati kabar baru dan suasana obrolan.

Pak sekdess mengamati tingkah tamu anehnya sambil merasakan kebingungan menghadapi tamu satu ini, juga tentunya sambil menggaruk-garuk kepalanya menjawab dengan berusaha lebih tenang,"Beliau mah sudah diakui negara Pak...., tiap kali tanda tangan beliaulah yang diakui ngurus segala macam sampai tuntas hampir semua pembangunan desa kita, dan juga Beliau apa adanya dan gak pernah neko-neko, Sampean aja yang bergaya detektif ketinggalan..."

Keduanya sontak tertawa terbahak- bahak tanpa bisa dituliskan suaranya karena pastilah rumit menuliskan suara macam begitu, bahkan ada yang sempat ambil kulit cabe hijau di gigi, terus ketawa lagi... sedikit protes pak sekdes juga sempat menyela tawa mereka dengan setengah berbisik pak sekdes juga meminta agar jangan memanggilnya dengan jabatan apalagi pake disingkat, bikin risi kuping... lalu ketawa mereka berlanjut lebih panjang lagi.πŸ˜ŒπŸ€‘πŸ˜ͺ



Bisaku dan Bisamu Pernah Bertemu

Kawat memang dirancang dan dibuat 

Dipilih dari bahan terpilih hingga terbaik minimal yang cukup kuat

Ada jenis yang terbebas dari karat 

Rancang akan daya tahannya menjadi pertimbangan melekat 

Namun ternyata itu materi tidak semua untuk mengikat 

Ia seperti datangmu yang mengalirkan sumber dari tempat yang tinggi hingga mencapai samudra 

Mengiringi alur memanjang itu tiada perlu menyatukan semua langkah dengan menceburkan diri sepanjang waktu ...

Kantung - kantung perhentian kini tiada perlu dicari -cari, lebih baik saran milikmu untuk menghibur diri....😁


Muasal Direka

Sebelum kemeriahan dibuka 

Keramaian ada disana 

Kalau pun dia membuka 

Dia bukan membuka kemeriahan itu 

Ia telah memuntungkan rokok putih kegemarannya 

Sebelum menginjakkan kaki di sana 

Ketika semua tahu bahwa acara sudah dibuka bertambahlah keramaian itu 

Suasana yang tidak begitu disukainya, tidak heran ia tidak berlama-lama berada disana 

Kemana setelahnya, kata orang tiada ragu ketempat asalnya, tempat yang menyamankannya 

Orang berkata demikian tidak sekonyong-konyong atau tanpa alasan atau mengatakan sangat mengenalnya, hingga menggelindingnya tujuannya usai itu sudah pasti tidak seutuhnya oleh gravitasi....

Berlalunya Kenyataan

Kemarin menjadi tanda yang tepat 

Kemarin itu hanya sebuah cerita 

Juga kemarinlah yang disebutkanya sendiri 

Genap usia miliknya 

Sudah mendahului sebuah nama 

Nama yang menjadi kebanggaan 

Dua puluh enam tahun berlalu 

Dibawanya seolah ia mendekati terbitnya terang pagi ....

Perindukan imaginer mengasup kewaskitaan kedalaman dirinya akan kemana sebuah kisah memadai serapah dengan senyuman semudah dan seringan dirinya melahap hidangan berkuah.

πŸ˜†

Kisah akan usahanya yang untuk memejamkan mata saja masih terusik dengan segala upaya senggol dan silih telisik tiada kurang bertubi mengusik..

Namun tiada lebih 

Baginya semua masih dapat dijangkau dengan semudah dirinya mengumbarkan canda dan senyuman... seolah telah tahu kemana semua kata itu akan menuju... tanpa sedikit paparan ungkit ini seperti masa lalu 

Ia bahkan tersipu 

Mengenalinya seperti lagu 

Juga bocah yang sangat lugu 

Tanpa ia bicara 

Matanya sudah mampu mengatakan 

Tiada perlu lagi padanya 

Membuang-buang tenaga

Dengan bersilat lidah 

Untuk menjelaskan realita 

Dengan demikian ia akan 

Akan meninggalkanmu 

Jauh dan semakin jauh hingga ....

Hanya menonjolkan kisah masa lalu ...

Dan realita tetap akan jadi milik *

..nya.

*)


Seakan Sudah Jadi dan Lunier

Meskipun 

Walaupun

Masih sama juga 

Dengan kendati 

Maksudnya linier 

Dibiarkannya 'engkau' berada 

♡Menggantikan 'diri ini'

Mengapa harus demikian..?

$ebenarnya tidak demikian 

Karenanya tidak perlu ada kata harus 

Kenyataan lain diluar sebuah rumus , dalam mengubah kecepatan 

Ia adalah kesabaran dimana temuan itu milik orang biasa seperti diri ini yang mencoba menyadari...

Setidaknya masih tersisa kesadaran bahwa sannya bukan satu -satunya tempat bertanya atau terkuatnya sandaran...

Sekedar menimbang dan membagikan pendapat tiada sulit bagi yang rela mendekat dan terbuka....untuk mencoba memahami .

S3ktor dan alokasi itu harus mengerti arus bila tidak ingin dinamai ambisi...

Arua yang berlebihan sering disepadankan dengan kepongahan seolah angannya sendiri yang melayang tiada dapat dimengerti yang jauh...

Pena usang itu pernah mengaitkan pertanda akan keadaan serupa dalam pandangannya yang tinggi melompati jamannya walau tanpa sayap,

Catatan-catatan kecilnya tidak jarang hanya dianggap sampah tanpa judul tidak sepantas pemilik sampul yang disebut cover tebal dan berkilau  bila terkena cahaya semakin mantul...

Ini bukan sang pengendali kepadatan penduduk yang tidak bisa duduk dalam hunian berlahan rawa dan hambut yang tiada lagi disebut setelah semua pemandangan hanya menjadi rumput, luasnya sudah tidak ditengok lagi oleh anggapan hingga supremasi para p3nganut... 

Merasa sudah begitu tepat ?

@$@l hanya sesaat 

Mungkin bicaranya telat 

Alasan jelas, bagaimana manfaat 

Adakah dibaliknya kata sepakat 

Meskipun itu bukan landasan kuat 

Lirikan baiat seperti kecepatan indeks harga, ingin tanya hanya dianggap belagu...

Dibiarkan bergulir seolah salah kelola, padahal warna lampu diujung tanda, hanya ingin bicara sedikit tiada lan dari maksudnya thank you.

@bukankolektorarangjadi2an.





Mengarangkan Cinta

Sudah terlanjur terlewati 

Perkara dinama tidak selayak bubur 

Tanah tergali begitu dalam namun mengapa urung menggembur

Tiada perlu kudipandang dalam kemegahan istana tempatmu berada sebagai yang termasyur 

Telah terbawa seluruh bau yang tersungkur kedalam bara yang hidup itu...

Tiada lagi utuhnya bentuk tubuh miliknya sebagaimana lukisan dibentuk sepasang tangan pengisah

Konon hidupnya bara itulah yang mengubah semua itu beriring nyala tanpa muai gemerincing menduduki harga pemekaran sebelum hari ini semakin menggelap 

Kupandang dari sudut kursi kereta seusai kelegaman itu mencerah ingin menuju memutih diujung perapian bersama pengeja pemantra tutur dari leluhur yang mendekatkan diri dalam baur 

Kutuang detak maumu dalam barunya bentuk yang lama dengan setiap perahan pikir dan keringat teramu...

Sadar akan  besarnya tekat hatimu yang selalu menjauhkan kata mundur bahkan semakin lantang meneriakkan seruan' gempur'! agar semua penghalang lalu melebur dalam tanah tempat kita berpijak

Semua serpihan kata ini tiada mula dan tiada asal atau bermata angin bebas menebar dengan kecepatan miliknya tanpa lagi terukur disetiap ruang imagimu sendiri ...

Bila terlalu sulit membayangkan biarlah ia pergi bersama debu-debu di setiap jalan yang engkau lalui tanpa kata pamit apalagi lambaian tangan yang tiada mungkin akan tampak oleh penerima kemustahilan..





Untuk Hal Tertentu Saja

mengapa

 Mengapa harus begitu 

Memilih cara mengangguk-angguk

Tanda kamu setujukah,

Tanda kamu kagumkah,

Tidak tahu, atau mengimuti saja bagaimana burung hantu dalam hal lagu....

Kalau mereka berbondong-bondong datang ke tempatmu untuk tujuan mereka, apa yang terlintas dalam pikiranmu?

Tidak seMua orang mahami akan isi kepala mereka yang datang kepadamu, mungkin mereka mengagumi, mendambakan sebagai bagiannya atau orang sepertinya bisa jadi juga mereka membenci, walaupun tidak memusuhi.

Mereka ada yang berusaha keras untuk berperilaku dan berpikir seperti sebagian mereka yang datang namun mereka sama sekali orang yang berbeda, tidak jauh beda dengan kamu,...

Tentu tidak dalam semua hal....

Halaman berapa terserah, begitu kalau ditanya, karena bagi mereka yang penting bisa bermain, panggung yang kamu sediakan itu jauh beda dengan keadaan mereka kalau sedang bermain beneran....



KLIKU Belajar : "Mengada-ada"

KLIKU Belajar : "Mengada-ada": Mengenang suara indahmu Ditempat tanpa penghuni Remang masih menyisa kaldu Seruput penghangat berkuah hingga kering sebelum dari...





Karya : Aidat Windy
The View :



Suara menggema, lantang dan penuh wibawa, membelah kerumunan rakyat yang berkumpul di alun-alun kerajaan.

Sang Penguasa, berdiri tegak di atas singgasananya, tatapannya tajam menyelidiki wajah-wajah penuh kekhawatiran di hadapannya. Suaranya bagaikan guntur, menggetarkan jiwa-jiwa yang mendengarkan.

"Rakyatku!" seru Sang Penguasa. "Bayang-bayang perang telah menyelimuti negeri kita. Musuh bebuyutan, kejam dan haus darah, telah menginjakkan kaki di tanah suci ini. Mereka ingin merenggut kedaulatan kita, menindas rakyat, dan menghancurkan warisan leluhur."

Kerumunan bergemuruh. Desahan cemas dan teriakan kemarahan bercampur aduk. Ketakutan menyelimuti hati mereka, membayangkan kengerian peperangan yang akan segera melanda.

Sang Penguasa mengangkat tangannya, menenangkan rakyatnya. "Jangan gentar!" tegasnya. "Kita adalah bangsa yang berani, keturunan para pahlawan yang gagah perkasa. Kita tidak akan tunduk pada penjajah! Kita akan melawan dengan segenap kekuatan yang kita miliki!"

Suara Sang Penguasa menggema dengan penuh semangat. "Aku, Raja kalian, memerintahkan kalian semua untuk bersiap sedia. Latihlah diri kalian, asahlah keahlian kalian, dan persiapkanlah diri untuk berperang. Kita akan mempertahankan tanah air kita, melindungi keluarga kita, dan menjaga harga diri bangsa kita!"

Rakyat bersorak sorai, tekad membara di mata mereka. "Hidup Raja!" teriak mereka. "Hidup Bangsa!"

Sang Penguasa melanjutkan pidatonya. "Aku tahu, perang ini akan berat. Akan ada korban jiwa, air mata, dan penderitaan. Tapi aku yakin, dengan tekad yang bulat dan persatuan yang kuat, kita pasti akan keluar sebagai pemenang."

"Ingatlah!" seru Sang Penguasa. "Wilayah pertempuran ini telah memasuki duniaku. Jangan beranjak, menghambat lakuku. Lanjutkan ritme ultimatum tersebut!"

Kata-katanya menggema di benak rakyat, membakar semangat mereka. Mereka siap untuk berperang, siap untuk mengorbankan segalanya demi mempertahankan tanah air mereka.

Suara Sang Penguasa menggema di angkasa, mengantarkan rakyatnya menuju medan pertempuran. Sebuah babak baru dalam sejarah kerajaan telah dimulai, sebuah babak perjuangan yang akan menentukan nasib bangsa.


``

gelanggang 
arena
lapangan pertempuran
ruang pertempuran
sasaran pertempuran
tempat pertempuran

-----Dimatamu


Ada yang lain 


Cara orang menjebak

Dirinya dan orang lain 

Bukan niatan membawa dalam tempat,

kawasan, wilayah atau sebuah dorongan , tarikan, hingga jerumus pada sebuah hal negatip hingga kemaksiatan, 

Semua hanya pada pilihan ketia ia mencoba mengambil dan menggunakan 'mata dunia' tanpa sedikit pun ada urai padanya termasuk fungsinya, tidak masalah walau sebagai fungsi turunan karena kenormalan pada kondisi hidup dapat menggambarkan banyak perspektif; sisi lain yang muncul menjadi tanya selanjutnya ;

Mengapa ia tidak memilih 'rambut dunia', 'kaki dunia', sehingga bisa pergi jalan kemana mana ; apabila ia menggunakan 'mulut dunia' pastilah bisa makan berbagai makanan atau bercerita banyak hal, mingga menyanyikan lagu kasmaran ;lalu ia masih terus karena katanya itu hanya pilihan, mungkin bisa dicoba kapan-kapan.